Pedasnya Bisnis Tahu Jeletot Taisi Milik Rosie Pakpahan

Anda penggemar makanan pedas? Coba makan tahu jeletot Taisi. Tahu goreng berisi sayuran ini memiliki cita rasa ekstra pedas yang menjadikannya bukan sekadar tahu jeletot biasa. Tahu ini pula yang menjadikan Rosie Pakpahan menjadi seorang pengusaha beromzet ratusan juta rupiah.
Menginjak tahun keempat, Tahu Jeletot Taisi memiliki 177 cabang yang tersebar di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bandung, Cilegon hingga Yogyakarta, dan 9 di antaranya merupakan milik Rosie sendiri. Setiap harinya 10 ribu potong tahu terjual.
Rosie berbagi tugas dengan sang suami, Rudi Sinurat. Rudi fokus ke bagian produksi, sementara Rosie ke bagian pemasaran dan pengembangan produk. “Saya belajar dari mentor saya, pemilik usaha kebab Baba Rafi. Dalam waktu 10 tahun produknya mencapai mancanegara. Target saya, tahun ke-6 masuk mancanegara,” ucap Rosie.  
Kesukesan Rosie Pakpahan tidak lepas dari keberaniannya untuk keluar dari zona nyaman. Awalnya, wanita berusia 39 tahun ini bekerja sebagai consumer loan manager di sebuah bank pemerintah. Di tengah karier yang menanjak, Rosie memutuskan menjadi entrepreneur.
Bermacam usaha coba ia rintis, mulai dari cetak buku, sepatu, pulsa, alat tulis kantor, hingga jamur crispy. Akhirnya ia menemukan usaha yang pas, tahu jeletot. Usaha tahu jeletot mulai ia jalankan pada 29 Februari 2012 di teras rumahnya yang berukuran 3 x 3 meter di Perumnas Depok 1.
“Tiga bulan pertama kami melakukan tes pasar kepada orang tua murid, teman anak saya. Ada yang bilang terlalu pedas, terlalu asin, tepungnya terlalu keras, dan lain-lain. Sampai saya menemukan racikan yang pas,” ungkap Rosie. Bermodalkan 10 juta rupiah hasil menggadaikan sepeda motor, Rosie merintis bisnis Tahu Jeletot Taisi menggunakan gerobak.
“Kali pertama jual, laku 200 potong per hari. Per potong saya jual 2 ribu rupiah. Saya tingkatkan 500 potong, habis. Sampai titik puncaknya 1.200 potong, habis. Tahun pertama saya pun sudah punya lima gerobak,” ungkap Rosie.
Ia menjamin tahunya tanpa bahan pengawet. “Tahu putihnya diracik sendiri rekanan kami. Dibuat khusus untuk kami, hanya bisa bertahan 1 x 24 jam,” kata Rosie. “Tepung juga diracik sendiri. Ini yang jadi ciri khas. Yang pasti crispy, kriuk. Cabai yang kami pakai cabai rawit setan. Untuk tingkat kepedasan, tergantung musim. Musim kemarau, pedasnya luar biasa. Giliran musim hujan kadar kepedasannya berkurang,” tambah dia.    
Tahun kedua, Rosie menyewa rumah dan lahan kosong di Beji, Depok, sebagai tempat produksi. Ia mulai membuka sistem kemitraan atau waralaba. Dengan nilai investasi 15 juta rupiah, pembeli waralaba Tahu Jeletot Taisi mendapat gerobak, peralatan masak, dan bahan baku. Aturannya, beli putus. Rosie mewajibkan mitranya hanya menjual produk, tanpa modifikasi. Pewaralaba bisa balik modal sekitar 3 bulan.
 “Tidak ada royalti, bagi hasil. Dengan menjual 300 potong dengan harga 2.500 rupiah per potong, bisa balik modal dalam tiga bulan,” beri tahu dia. Tahun ketiga, ia membangun kantor dan tempat kerja di Sawangan, Depok. Rosie saat ini mempekerjakan 53 karyawan yang terbagi dalam divisi adminitrasi, produksi, dan distribusi.

  •  admin

  •  15 May 2020